Menampilkan 18 hasil

Deskripsi Arsip
15 hasil temuan memiliki objek digital Perlihatkan hasil dengan objek digital
ID R.MA PVF · Fonds · 2026

Pameran arsip digital ini menguraikan kekayaan warisan leluhur tanah Pasundan yang bersahaja. Menampilkan pendar-pendar keindahan dari arsitektur rumah adat hingga riuh bunyi dan rasa kesenian Sunda. Kumpulan arsip digital, dokumentasi visual, rekaman multimedia, dan informasi tekstual terstruktur yang merekam kompleksitas warisan budaya bendawi dan non-bendawi (tangible and intangible heritage) masyarakat Sunda di Jawa Barat. Khazanah arsip dalam fonds ini memetakan identitas dan kearifan lokal tanah Pasundan melalui 3 (tiga) pilar klasifikasi utama, yaitu arsitektur bangunan tradisional vernakular (suhunan), seni pertunjukan rakyat (sora), serta tradisi gastronomi lokal (rasa).

tanpa judul

Series ini menghimpun kurasi arsip digital berupa dokumentasi visual, rancang bangun, dan nilai filosofis dari variasi arsitektur rumah tinggal tradisional masyarakat Sunda di Jawa Barat. Ruang lingkup informasi dalam kelompok arsip ini berfokus pada 7 (tujuh) rekonstruksi model penutup atap (suhunan) vernakular, yang meliputi model Badak Heuay, Togog Anjing, Julang Ngapak, Parahu Kumureb, Jolopong, dan Capit Gunting.

Series Kuliner Tradisional (Rasa)

Series ini berisi inventarisasi arsip digital, dokumentasi visual gastronomi, dan catatan historis mengenai warisan kuliner tradisional di tanah Pasundan. Ruang lingkup series ini memetakan 4 (empat) representasi sediaan pangan khas, yang terbagi atas kategori hidangan utama berbasis sayuran segar dan produk fermentasi lokal (Karedok dan Nasi Tutug Oncom), serta penganan manis tradisional dengan teknik pemanggangan otentik (Surabi dan Kue Balok).

Model arsitektur rumah tradisional Sunda jenis Togog Anjing diadopsi dari istilah bahasa Sunda yang berarti "anjing yang sedang duduk atau jongkok". Ciri khas utama bangunan ini adalah struktur atapnya yang memiliki dua lapis (suhunan ganda). Atap bagian atas berbentuk segitiga pelana, sedangkan atap bagian bawah—yang menyambung langsung—berfungsi sebagai peneduh teras depan (sorondoy).

Penganan tradisional legendaris Sunda yang dibuat dari adonan tepung beras, santan kelapa, dan parutan kelapa muda. Keunikan utama kuliner ini terletak pada bertahannya teknik pengolahan kuno, di mana adonan dipanggang di atas cetakan berbentuk cawan dari tanah liat (asapan) dan dibakar menggunakan tungku arang atau kayu bakar tradisional.

Bentuk arsitektur purba Sunda yang dinamakan Capit Gunting mengambil inspirasi dari bentuk hiasan atapnya yang menggunakan dua bilah bambu atau kayu yang dipasang menyilang di ujung atas pembatas atap. Penyilangan ini membentuk ruang silang yang menyerupai alat penjepit atau gunting yang terbuka. Struktur dasar atapnya sendiri mengadopsi model pelana memanjang yang sederhana.

Alat Musik Bambu Tradisional Angklung

Instrumen musik multitonal tradisional Sunda yang dibuat dari pipa-pipa bambu yang disusun dalam kerangka khusus. Suara dihasilkan dengan cara menggoyangkan tabung bambu sedemikian rupa sehingga benturan antar-pipa menghasilkan bunyi bergetar dalam susunan nada tertentu. Dalam akar sejarahnya, angklung lahir dari ritus agraris masyarakat Sunda kuno sebagai media penghormatan kepada Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Padi) untuk memohon kesuburan tanah dan keberhasilan panen.

tanpa judul

Struktur fisik bangunan rumah tinggal tradisional masyarakat Sunda dengan model atap Badak Heuay memiliki arti etimologis "badak yang sedang menguap". Karakteristik utama arsitektur ini terletak pada bidang atap bagian belakang yang meluncur langsung ke bawah, sementara bagian atap depan memiliki potongan penutup tambahan (topi) yang melewati batang suhunan (puncak atap) sehingga menciptakan bentuk menyerupai rahang badak yang sedang terbuka.

Model arsitektur Julang Ngapak secara etimologis memiliki arti "burung julang yang sedang mengepakkan sayapnya". Karakteristik visual yang paling menonjol adalah bentuk atapnya yang melebar di kedua sisi kiri dan kanan dengan sudut kelandaian yang melengkung di bagian ujungnya, menyerupai gerakan sayap burung yang sedang terbang. Pada bagian puncak atap (suhunan), terdapat hiasan silang berbentuk huruf X atau cabang pohon yang disebut Cagak Gunting sebagai simbol penolak bala.